26 Juli 2026

Soft Life, Gaya Hidup Mengutamakan Ketenangan

Pandangan tentang kesuksesan perlahan berubah. Jika dahulu bekerja tanpa mengenal waktu dan terus mengejar pencapaian dianggap sebagai jalan menuju kehidupan ideal, kini semakin banyak orang justru memilih hidup dengan ritme yang lebih tenang. Mereka lebih mengutamakan kesehatan mental, keseimbangan hidup, dan kebahagiaan sehari-hari dibanding sekadar mengejar produktivitas.

Perubahan cara pandang tersebut dikenal dengan istilah soft life. Mengutip Forbes, psikolog Mark Travers menjelaskan bahwa meski istilah ini populer melalui media sosial, pada dasarnya soft life mencerminkan pergeseran nilai masyarakat dalam memaknai kesuksesan. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental, banyak orang mulai menyadari bahwa hidup yang berkualitas tidak selalu identik dengan bekerja tanpa henti.

Tren soft life sendiri berawal dari komunitas kreator konten di Nigeria, salah satunya Sisi Yemmie (@sisiyemmie). Dari sana, gagasan ini berkembang pesat dan menjangkau berbagai negara melalui media sosial, menjadi simbol gaya hidup yang lebih seimbang dan minim tekanan.

Berbeda dengan budaya hustle culture atau rise and grind yang menempatkan kerja keras tanpa jeda sebagai ukuran keberhasilan, soft life mengajak seseorang melepaskan tuntutan untuk selalu produktif. Fokusnya bukan pada seberapa sibuk seseorang bekerja, melainkan bagaimana menjalani hidup yang lebih sehat, damai, dan bermakna.

Menurut Mark Travers, semakin banyak orang menyadari bahwa kebahagiaan tidak hanya ditentukan oleh besarnya penghasilan atau tingginya status sosial. Kepuasan dalam menjalani kehidupan sehari-hari juga menjadi bagian penting dari definisi sukses.

Pandangan tersebut sejalan dengan hasil survei KeyBank. Sebanyak 72 persen responden mengaku lebih memilih mendefinisikan kesuksesan berdasarkan konsep soft life, yakni kehidupan yang memberikan rasa bahagia dan terpenuhi. Di sisi lain, 54 persen responden menilai budaya bekerja tanpa henti justru meningkatkan risiko mengalami burnout.

Penerapan soft life juga diwujudkan melalui kebiasaan merawat diri (self-care) secara konsisten. Tidak hanya menjaga kesehatan fisik, tetapi juga memperhatikan kondisi emosional dan mental melalui aktivitas yang memberikan rasa nyaman, relaksasi, maupun kebahagiaan.

Mark Travers mengutip tinjauan sistematis yang dipublikasikan pada 2023 yang menunjukkan beberapa praktik self-care paling bermanfaat bagi kalangan muda. Di antaranya meningkatkan kesadaran diri (self-awareness), belajar berbelas kasih kepada diri sendiri (self-compassion), menjaga kebugaran tubuh, serta membangun hubungan sosial yang positif dan saling mendukung.

Prinsip penting lainnya dalam soft life adalah menciptakan batas yang sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Menurut Mark, kemampuan menetapkan batas membuat seseorang lebih bijak dalam mengelola waktu, energi, dan perhatian.

Ia menegaskan bahwa soft life bukan berarti menghindari tanggung jawab atau enggan bekerja keras. Sebaliknya, gaya hidup ini mengajarkan seseorang untuk mengenali kapasitas dirinya dan tidak memaksakan diri melampaui batas.

Pendapat tersebut diperkuat oleh penelitian yang dimuat dalam Frontiers in Psychology pada Desember 2023. Studi tersebut menemukan bahwa batas yang tidak jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi berkaitan dengan meningkatnya kelelahan emosional serta menurunnya tingkat kesejahteraan psikologis.

Untuk mulai menerapkan soft life, tidak diperlukan perubahan besar. Langkah sederhana seperti menetapkan jam kerja yang konsisten, berani mengatakan tidak terhadap beban kerja yang berlebihan, membuat rapat lebih efektif, hingga mematikan notifikasi pekerjaan setelah jam kerja usai dapat menjadi awal untuk membangun kehidupan yang lebih seimbang dan lebih sehat.