Presiden Prabowo Subianto mendorong pembaruan buku ajar yang digunakan peserta didik di berbagai jenjang pendidikan. Langkah tersebut diarahkan agar materi pembelajaran lebih sesuai dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi.
Prabowo meminta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti membentuk tim untuk mempelajari dan mengevaluasi kembali buku-buku pelajaran yang digunakan siswa. Pemerintah menilai bahan ajar perlu terus disesuaikan agar pendidikan Indonesia tidak tertinggal dari perkembangan global.
Pengamat pendidikan Adjat Wiratma menilai gagasan pembaruan buku pelajaran tersebut merupakan langkah penting. Menurut dia, buku pelajaran tetap memiliki posisi strategis di tengah semakin kuatnya penggunaan teknologi dan sumber belajar digital.
“Buku pelajaran jangan hanya menjadi kumpulan materi yang harus dihafalkan. Buku harus menjadi pintu masuk bagi siswa untuk memahami persoalan, berpikir kritis, berdiskusi, dan menemukan solusi,” ujar Adjat.
Ia mengatakan, pembaruan buku pelajaran untuk jenjang SD hingga SMA perlu memperhatikan karakteristik dan kebutuhan peserta didik pada setiap jenjang. Materi untuk anak SD, misalnya, harus lebih kontekstual, menarik, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sementara pada jenjang SMP dan SMA, bahan ajar perlu semakin mendorong kemampuan berpikir kritis, analitis, kreatif, serta pemecahan masalah.
Menurut Adjat, tantangan terbesar bukan sekadar mengganti buku lama dengan buku baru. Yang lebih penting adalah memastikan isi, metode penyajian, dan cara belajar yang ditawarkan benar-benar relevan dengan perubahan zaman.
“Anak-anak sekarang hidup di tengah internet, media sosial, kecerdasan buatan, dan banjir informasi. Karena itu, buku pelajaran harus mengajarkan bukan hanya apa yang harus diketahui, tetapi juga bagaimana memilah informasi, berpikir kritis, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab,” katanya.
Adjat juga menilai pembaruan buku harus tetap memperkuat karakter dan identitas kebangsaan. Pendidikan tidak boleh kehilangan nilai-nilai seperti gotong royong, tanggung jawab, toleransi, cinta tanah air, dan penghargaan terhadap keberagaman.
Ia berharap proses penyusunan dan evaluasi buku melibatkan guru, dosen, praktisi pendidikan, pemerhati literasi, serta pihak yang memahami perkembangan teknologi pembelajaran.
“Buku yang baik adalah buku yang mampu membuat anak ingin membaca, ingin bertanya, dan ingin belajar lebih jauh. Jangan sampai buku hanya selesai dibaca untuk menghadapi ujian, tetapi tidak meninggalkan cara berpikir dan karakter yang kuat,” ujar Adjat.
Menurut Adjat, integrasi antara buku cetak dan sumber belajar digital dapat menjadi peluang untuk membangun ekosistem pembelajaran yang lebih inklusif dan sesuai dengan kebutuhan generasi baru.
“Kalau buku diperbarui, guru diperkuat, dan teknologi dimanfaatkan dengan tepat, kita bukan hanya sedang memperbaiki buku pelajaran. Kita sedang menyiapkan generasi Indonesia untuk menghadapi masa depan,” katanya.
