18 Juni 2026

Sering Tertawa pada Hiburan Receh Bisa Jadi Tanda “Brain Rot”

Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia, Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, M.Sc, menyoroti fenomena brain rot yang belakangan ramai diperbincangkan di ruang digital. Istilah tersebut merujuk pada kondisi penurunan kemampuan kognitif akibat paparan berlebihan terhadap konten hiburan ringan di media sosial.

Prof. Agustino menjelaskan, salah satu tanda yang kerap muncul tanpa disadari adalah meningkatnya respons emosional terhadap hiburan sederhana, termasuk kebiasaan mudah tertawa terhadap konten-konten receh yang dikonsumsi secara terus-menerus.

Menurutnya, kondisi ini bukan sekadar perubahan selera hiburan, melainkan dapat menjadi indikasi awal bahwa otak mulai terbiasa dengan stimulus instan. Jika dibiarkan, pola tersebut berpotensi memengaruhi kemampuan konsentrasi, kedalaman berpikir, hingga daya analisis seseorang.

Fenomena brain rot sendiri kini banyak digunakan sebagai istilah populer di kalangan pengguna media sosial untuk menggambarkan kebiasaan menghabiskan waktu pada konten pendek, cepat, dan berulang. Meski sering dipakai secara jenaka, Prof. Agustino menilai gejala tersebut tetap perlu dicermati secara ilmiah.

Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dalam mengonsumsi media digital, termasuk membatasi waktu penggunaan gawai serta memperbanyak aktivitas yang melatih fokus dan daya pikir, seperti membaca, diskusi, maupun kegiatan akademik.

Dengan demikian, brain rot tidak hanya menjadi istilah viral di dunia maya, tetapi juga menjadi pengingat akan perubahan pola kerja otak manusia di tengah derasnya arus informasi digital.