Di tengah derasnya arus media digital dan maraknya platform berbasis video pendek, radio ternyata belum kehilangan pesonanya. Bagi sebagian orang, radio bukan sekadar media informasi, tetapi juga ruang kedekatan emosional yang sulit tergantikan teknologi lain.
Pakar pendidikan Adjat Wiratma menilai radio memiliki kekuatan unik karena mampu menghadirkan kedekatan personal antara penyiar dan pendengar. Menurut dia, dunia radio tetap relevan karena menawarkan kehangatan komunikasi yang tidak selalu ditemukan di media sosial.
“Radio itu bukan hanya soal suara yang mengudara, tetapi bagaimana penyiar membangun imajinasi, menemani pendengar, dan menghadirkan rasa dekat meski tidak saling bertemu,” kata Adjat saat ditemui dalam sebuah diskusi media di Jakarta, Kamis (22/5/2026).
Adjat yang juga aktif sebagai penyiar radio mengatakan, pengalaman berada di balik mikrofon selalu menghadirkan dinamika tersendiri. Setiap siaran, menurut dia, bukan sekadar membaca informasi, melainkan membangun suasana dan energi yang dapat dirasakan pendengar.
Ia mengungkapkan, radio memiliki keunggulan dalam menghadirkan komunikasi yang spontan dan natural. Pendengar, kata dia, sering kali merasa memiliki hubungan personal dengan penyiar karena interaksi yang dibangun berlangsung akrab dan konsisten.
“Kadang ada pendengar yang rutin menyapa setiap pagi atau malam. Dari situ terlihat bahwa radio masih menjadi teman perjalanan, teman bekerja, bahkan teman saat seseorang merasa sendiri,” ujarnya.
Menurut Adjat, perkembangan teknologi justru membuka peluang baru bagi industri radio untuk berkembang. Saat ini banyak stasiun radio memadukan siaran konvensional dengan platform digital seperti podcast, live streaming, hingga media sosial untuk menjangkau generasi muda.
Ia menilai transformasi tersebut membuat radio lebih fleksibel dan mampu mengikuti perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi maupun hiburan.
“Radio sekarang tidak hanya didengar lewat frekuensi FM. Anak muda bisa menikmati siaran melalui aplikasi, streaming, atau potongan konten di media sosial. Ini membuat radio tetap hidup dan dekat dengan generasi baru,” katanya.
Selain sebagai media hiburan, Adjat menilai radio juga memiliki fungsi edukasi yang penting. Dalam dunia pendidikan, radio dinilai efektif untuk menyampaikan pesan-pesan inspiratif, membangun literasi, hingga memperkuat budaya diskusi di masyarakat.
Ia berharap generasi muda tidak memandang radio sebagai media lama yang tertinggal zaman. Sebaliknya, radio perlu dilihat sebagai ruang kreatif yang mampu melatih kemampuan komunikasi, public speaking, hingga kepekaan sosial.
“Dunia radio itu seru karena kita belajar mendengar, memahami audiens, dan menyampaikan pesan dengan hati. Itu keterampilan yang sangat penting di era sekarang,” ujar Adjat.

