Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi menyampaikan wacana menutup program studi yang dianggap tidak lagi relevan dengan industri. Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek Badru Munir Sukoco mengatakan wacana menutup prodi dilakukan untuk menekan kesenjangan antara lulusan kampus dan kompetensi yang diperlukan dunia kerja.
Akibatnya, kata dia, kebutuhan di lapangan acap kali tidak cocok dengan latar pendidikan sarjana. “Nanti mungkin ada beberapa yang harus kami eksekusi dalam waktu tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi, perlu kita pilih. Kalau perlu ditutup untuk bisa meningkatkan relevansi,” kata Badru di Kabupaten Badung, Bali pada Kamis, 23 April 2026.
Kemdikti, kata dia, mencatat ada 1,9 juta sarjana yang dihasilkan kampus setiap tahunnya. Jumlah itu dinilai telah membuat para lulusan perguruan tinggi kesulitan dalam mencari pekerjaan. Sejumlah kampus mengaku belum menerima informasi soal rencana penutupan prodi tersebut. Namun, mereka telah merespons wacana dari Kemdikti.

